Tentang Alexander Agung dari Macedonia

By | December 31, 2013

Tentang Alexander Agung dari Macedonia – Keadaan tidak baik Yunani digunakan oleh bangsa Macedonia yang terdapat di samping utara Yunani. Dibawah pimpinan Raja Philip II, Macedonia menyerang Yunani (338 SM) serta sukses menjadikan satu Yunani dibawah dominasi bangsa Macedonia. Tujuan selanjutnya yaitu Persia. Gagasan serangan ini tak dapat direalisasikan sesudah Raja Philip II terbunuh serta tahtanya ditinggalkan untuk anaknya yang masih berumur 20 th., bernama Alexander Agung (Alexander The Great) yang dalam bhs Indonesia kerap ditranslate Iskandar Zulkarnaen.

Imperium Macedonia

Dibawah pimpinan Alexander, Macedonia sukses meluaskan wilayahnya di sepanjang Laut Tengah serta Laut Aegia. Polis Thebes yang selalu melawan sukses ditaklukkannya. Dalam peperangan yang berjalan intensif, satu persatu kota-kota yang diduduki Persia diambil. Akhirnya yaitu th. 331 SM semua lokasi Persia sukses dikuasainya. Kota-kota di selama Laut Tengah juga dikuasainya.

Sesudah Mesir diambil, dia jadikan Alexandria untuk pusat kebudayaan hellenik. Ekspansinya ke arah timur hingga ke India, tetapi dia gagal menyeberang Sungai Indus ke arah timur. Dia membangun ibu kota imperium barunya di Babylonia th. 324 SM.

Akhir Imperium Alexander Agung

Imperium Alexander yang membentang dari Mesir hingga Sungai Indus tak bertahan lama sesudah dia mati pada umur 33 th.. Tetapi, penaklukkan Alexander mempunyai efek yang besar untuk histori dunia. Peradaban Yunani dapat berkembang didunia non-Yunani yang ditaklukkannya.

Sepanjang pertempuran berjalan berlangsung kontak budaya pada pasukan yang dibawanya dengan bangsa yang ditaklukkannya. Pasukannya yang datang dari beragam bangsa yang ditaklukkannya jadi fasilitas untuk pertukaran budaya. Sesudah mengawini seseorang putri Persia, anak Darius, dia menyarankan prajuritnya untuk mengawini wanita Persia serta menyembah dewa Persia. Dari percampuran budaya Yunani dengan Persia serta Mesir itu lahirlah kebudayaan Hellenistik, kebudayaan baru yang tidak sama dengan kebudayaan Yunani.

Pertemuan budaya bangsa-bangsa yang ditaklukkan oleh Alexander (Yunani, Mesir, serta Persia) membuahkan budaya baru yakni Hellenistik. Pusat kebudayaan ini terdapat di Alexandria (Mesir) yang didirikan oleh Alexander. Di kota ini tersimpan lebih kurang kira-kira 70. 000 gulungan papirus tentang ilmu dan pengetahuan di beragam bidang. Biasanya temuan-temuan pada zaman Hellenistik lebih berbentuk praktis serta berguna dalam kehidupan keseharian.

Cukup sekian informasi yang bisa di himpun oleh corelita.com pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan pada kesempatan yang lain bisa memberikan kepada Anda informasi yang lebih bagus dan menarik, dan tentunya masih bisa memberikan manfaat bagi Anda semua.  Selamat mencoba, semoga berhasil dan mohon maaf apabila ada hal yang tidak pas dengan Anda. Jika ada yang perlu tanyakan atau disampaikan, silahkan tinggalkan pesan pada kotak komentar dibawah. Terima kasih